Pengungsi Rohingya di Aceh Terombang-Ambing di Lautan 7 Bulan dan Kurang Nutrisi Bertumbangan
Muslim Rohingya nasibnya kian memprihatinkan. Setelah diusir oleh militer Myamnmar, mereka kebingungan mencari tempat tinggal.
Sebagaimana dikisahkan Republika, baru-baru ini, 293 Muslim Rohingya terdampar di Perairan Lhokseumawe, Aceh Utara. Hanya empat diantara mereka terpaksa harus langsung dirawat di rumah sakit.
Kepala Bagian Humas Pemko Lhokseumawe Marzuki mengatakan empat pengungsi tersebut dirawat sejak pekan lalu karena sesak nafas dan demam lantaran kekurangan nutrisi akibat berada di perairan selama 7 bulan.
“Menurut medis ini karena mereka lama di laut, sesak nafas, paru-paru,” kata Marzuki kepada Anadolu Agency melalui sambungan telepon pada Rabu (16/9).
Marzuki memastikan Muslim Rohingya yang sakit bukan terpapar Covid-19 karena telah dilakukan tes usap terhadap tiga pengungsi lainnya yang telah meninggal beberapa waktu lalu dengan hasil negatif.
Sebanyak 200-an Muslim Rohingya yang saat ini ditempatkan di Balai Latihan Kerja Lhokseumawe dan akan dilakukan pendataan oleh Badan Pengungsi untuk PBB UNHCR.”Dan (mereka) akan diberikan kartu pengungsi UNHCR,” pungkas Marzuki.
Sebelumnya, 296 Muslim Rohingya terdampar di Pantai Lhokseumawe, Aceh beberpa waktu lalu. Dengan menggunakan satu kapal, mereka sempat berada di perairan selama 7 bulan. Setelah sesampainya di daratan, 3 dari 296 pengungsi tersebut meninggal karena sesak napas, sehingga total pengungsi saat ini 293 orang.
